Selasa, 22 Maret 2011

AJAIBNYA KELAHIRAN ANAKKU


Begini ternyata rasanya menunggui istri yang akan melahirkan. Apalagi akan melahirkan anak pertama. Kita tidak tahu reaksi yang dirasakan istri kita adalah reaksi biasa yang tidak perlu direspon berlebihan ataukah reaksi yang merupakan pertanda bagi kita untuk mulai memanggil perawat rumah sakit.
                Dimulai dari jam 2 siang tadi. Kata istriku dia sudah mulai merasakan mules – mules. Sialnya sms yang dia kirimkan ke aku waktu itu tidak sempat kubaca. Tahu – tahu waktu aku pulang, istriku mengeluh kesakitan sambil bolak – balik memegangi perutnya yang sudah besar. Aku berusaha tetap tenang dengan tidak buru – buru menyimpulkan bahwa saat itu sudah waktunya istriku melahirkan. Namun begitu, aku langsung cepat – cepat mandi dan sholat ashar. Setelah sholat,aku panggil Mbak Nur, pembantuku di rumah yang sudah punya anak (karena itu kuanggap sudah berpengalaman) untuk melihat istriku. Harapanku dia bisa memberitahuku bahwa itu tanda orang mau melahirkan atau bukan. Eh...... bukannya kasih tahu,malah dia sibuk bertanya ke istriku macam – macam sampai bikin istriku tambah merasa terganggu. Untunglah tidak lama kemudian Ibu (panggilanku ke ibu mertua) datang bersama Ayah (bapak mertua).  Melihat kondisi istriku Ibu mengajak pergi ke rumah sakit habis maghrib.
                Walhasil, dari habis maghrib istriku sudah masuk kamar bersalin. Lumayan lama kita disana tapi si kecil belum juga memberi tanda akan keluar. Waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Dan saat – saat dramatis pun dimulai. Istriku bolak –balik merasa kesakitan. Lebih sering mengaduh dari yang tadi – tadi. Bolak –balik mencengkeram tanganku erat – erat. Persis orang yang lagi naza’ (naudzubillah).......... situasi seperti inipun terus berlangsung sampai pukul 7 pagi. Saat itulah saat yang paling menegangkan dalam hidupku.
                Bukaan istriku sudah bukaan yang ke-10. Air ketubannya sudah pecah. Perawat – perawat langsung berdatangan ke ruangan. Dokter pun sudah dipanggil. Tapi sial, kepala bayinya belum sampai ke dasar jalan keluar bayi. Dokternya pun masih menangani operasi dan tidak kunjung datang. Istriku semakin kesakitan sambil memegangi lenganku. Aku hanya bisa berdoa dalam hati, “Ya Allah lancarkanlah kelahiran anakku ini. Selamatkanlah istri dan anakku. Sungguh aku tidak siap bila harus kehilangan salah satunya”.  Bolak – balik dia mengaduh dan berkata sudah tidak kuat. Sebenarnya aku sudah ingin menangis mendengar rintihannya. Tapi aku tahu bahwa aku tidak boleh kelihatan lemah di depannya saat ini.
“Sabar ya Mi, sebentar lagi. Kamu bisa kok”, ujarku berkali – berkali menyemangati. Jam 07.25, aku sudah bisa melihat ujung kepala anakku. Di saat yang hampir bersamaan dokternya juga masuk ruangan. Sudah cepat lakukan dok, istriku sudah tidak kuat lagi, teriakku dalam hati. Dengan sigap para perawat langsung mengambil posisi masing – masing dan memberi instruksi pada istriku untuk bisa mengeluarkan bayinya. Kulihat istriku sudah hampir tidak kuat lagi. Saat itu aku benar – benar merasakan bahwa istriku seperti sedang mempertaruhkan nyawanya demi kelahiran anaknya.
“Ya Allah tolonglah kami. Berilah kekuatan pada istriku”, ratapku dalam hati.
“Ayo bu Ima langsung satu kali dorongan ya. Ini kepala bayinya sudah kelihatan”, ujar dokternya memberi arahan.
Kemudian perawatnya bilang, “Ayo bu Ima sekarang ambil napas panjang ya. Ya bagus. Sekarang........dorong !!”.
Seketika istriku mendorong bayinya sekuat tenaga. Kepala kecil itu tiba – tiba merungsak keluar, dan dengan sigap dokter langsung menarik nya keluar dari rahim ibunya. Begitu ajaib bagaimana seorang bayi bisa keluar dari jalan sekecil itu. Melihat anakku sudah keluar dengan selamat, tangisku langsung pecah tak terbendung lagi. Aku langsung mencium kedua pipi istriku. Memberinya selamat atas perjuangannya selama ini. Alhamdulillah Ya Allah.......... terima kasih atas semua pertolonganMu.Penantian selama 9 bulan ditambah semalam di rumah sakit sudah terbayar tuntas pagi itu. Tepat jam 07.30, hari Jum’at, tanggal 4 Maret, anakku yang pertama lahir.

Selasa, 01 Maret 2011

Sebuah Keajaiban

Sesuatu yang sering tidak bisa dinalar. Kadang mengandung sebuah kejutan yang menyenangkan. Tapi justru itulah yang membuat hidup menjadi tidak membosankan. Dan membuat orang sadar, bahwa di balik itu semua, ada Sang Perencana yang mengatur itu semua. Itulah yang dinamakan KEAJAIBAN.